POV AIRI
Aku Airi. Nakagawa Airi.
Aku tinggal di sebuah kota kecil yang menurutku cukup indah dan tenang. Setidaknya, itu yang kurasakan setiap kali angin sore berhembus pelan diantara rumah-rumah tua di sekitar tempat tinggalku.
Sejak lahir, aku sudah tidak memiliki orang tua. Ibuku meninggal saat melahirkanku. Ayahku menyusul sebulan kemudian karena kecelakaan hebat. Aku tidak punya ingatan apa pun tentang mereka—hanya cerita yang kadang diceritakan paman dan bibiku dengan suara pelan.
Aku juga terlahir prematur. Tubuhku lemah sejak awal.
Dan seolah itu belum cukup, aku mengidap penyakit langka yang mereka sebut Hypostenic Paralysis Syndrome. Saat tenagaku habis, bagian tubuhku akan berhenti bergerak. Awalnya hanya satu, lalu dua, lalu semakin banyak. Jika kupaksakan, rasanya seperti ditusuk pisau dari dalam. Menyakitkan. Sangat.
Biasanya aku bisa pulih setelah beristirahat lama. Tapi kadang, rasanya seperti tubuhku lupa bagaimana caranya kembali bergerak.
Untungnya, dulu ada teman ibuku—seorang dokter—yang membuatkan obat herbal khusus untukku. Obat itu terbuat dari ekstrak ginseng merah. Rasanya pahit, tapi cukup membantu mempercepat pemulihan tenagaku saat kondisiku benar-benar drop. Tanpanya, aku mungkin akan lebih sering tergeletak tanpa bisa berbuat apa-apa.
Sekarang, aku tinggal bersama abangku—Onii-chan—di rumah peninggalan orang tua kami. Paman dan bibi tinggal di rumah sebelah, jadi kami tidak benar-benar sendirian.
Oh iya…
Nama Onii-chanku Nakagawa Rui.
Usia kami terpaut lima tahun. Dia luar biasa. Sangat luar biasa. Onii-chan hebat di bidang teknologi, bahkan pernah meraih juara pertama lomba robotik tingkat internasional. Selain itu, dia juga jago bela diri.
Aku sering bertanya-tanya bagaimana dia bisa melakukan semua itu. Hal-hal yang bagiku terasa… mustahil.
Di luar rumah, Onii-chan dikenal dingin. Pendiam. Banyak orang memanggilnya dengan julukan aneh—Tuan Dingin, Si Pemain Belakang, dan semacamnya. Tapi semua itu tidak berlaku saat dia bersamaku.
Kalau denganku, dia berbeda.
Dia selalu peka. Terlalu peka, malah. Sedikit saja aku terlihat lelah, dia langsung menyadarinya. Tangannya cepat terulur, menahan lenganku, atau menyuruhku duduk sebelum aku sendiri sadar tubuhku mulai melemah.
Seperti malaikat pelindung.
Dan itulah yang kadang membuatku… tidak nyaman.
“Moooaaah… Onii-chan, hentikan!” bentakku kesal sambil menarik tanganku.
“Aku bukan bayi!”
Tangannya berhenti, tapi wajahnya justru terlihat semakin cemas.
“T-tapi… kalau aku tidak khawatir, siapa lagi?” ucapnya pelan.
Aku mengerucutkan bibir. “Aku sudah besar. Aku sudah tujuh tahun, tahu.”
Dia menatapku sebentar, lalu menghela napas kecil.
“Justru karena itu, Airi. Kamu masih perlu dijaga.”
Aku tidak membalas. Aku hanya memalingkan wajah.
Setelah itu, Onii-chan mulai menjaga jarak. Dia tetap mengawasiku, tapi tidak lagi terlalu dekat. Seolah-olah ia selalu ada di sana… tanpa benar-benar terlihat.
Aku tidak tahu mana yang lebih membuatku tidak nyaman—perhatiannya yang berlebihan, atau jarak yang ia buat setelahnya.
Namun satu hal yang pasti…
Tanpa dia, aku tidak tahu akan jadi apa diriku sekarang.
Dan suatu hari, akan ada sebuah peristiwa yang mengubah caraku memandang Onii-chan.
Sesuatu yang tidak akan pernah kulupakan seumur hidupku.