POV AIRI
Minggu pagi itu, aku bangun sedikit lebih terlambat dari biasanya. Tubuhku masih terasa berat, dan kelopak mataku seperti enggan terbuka sepenuhnya. Aku turun pelan dari lantai dua menuju ruang tengah, langkahku masih setengah mengantuk.
Sesampainya di bawah, kulihat Onii-chan sedang sibuk di dapur. Suara wajan, bunyi spatula, dan aroma masakan hangat memenuhi ruangan, membuatku sedikit lebih sadar.
“Pagi…” sapaku sambil mengucek mata.
“Oh… pagi, Airi-chan.” balasnya, tanpa menoleh terlalu lama.
“Entah kenapa… aku terlambat bangun tadi,” keluhku sambil duduk di kursi.
“Mungkin karena hari Minggu?” tanyanya ringan.
“Tidak juga… biasanya aku tetap bangun pagi,” jawabku, diakhiri dengan satu kali kuapan kecil.
Onii-chan melihatku sebentar. “Biasanya, ya. Tapi hari ini kamu bangun hampir jam delapan. Kamu tahu itu telat buatmu.”
“Aku cuma… capek,” gumamku sambil mengucek mata.
“Capek? Sebentar, Kamu tidur jam berapa semalam?” tanyanya lagi.
Aku memalingkan wajah. “Nggak terlalu malam.” Padahal aku baru tidur jam sebelas.
Onii-chan menarik napas. “Airi… kamu sudah tujuh tahun. Kamu harus mulai jaga waktu tidurmu sendiri.”
“Iya…”
“Sekarang cuci muka dan sikat gigi. Setelah itu baru sarapan.”
“Baik…” aku mengangguk kecil lalu bangkit perlahan dari kursi.
Aku berjalan menuju kamar mandi sambil menyeret kaki, masih mengantuk berat. Begitu menyalakan lampu, cahaya lampu kamar mandi terasa menyilaukan. Aku menyipitkan mata sambil menyalakan keran.
“Dingin…” gumamku saat air menyentuh tanganku.
Aku membasuh wajah beberapa kali, lalu menyikat gigi sambil menatap bayanganku di cermin. Rambutku berantakan, mataku setengah terpejam.
Aku mengambil sikat gigi, menaruh pasta secukupnya — sedikit lebih banyak dari biasanya, biar cepat bangun, pikirku — lalu mulai menggosok gigi sambil memandangi bayanganku di cermin.
Sambil menggosok gigi, aku bicara sendiri dalam hati, Onii-chan itu aneh… cerewet, suka mengatur. Tapi kalau aku capek atau sakit, dia yang paling panik.
Aku berhenti sebentar, berkumur, lalu menatap cermin lagi.
Saat hendak keluar, aku mendengar suara Onii-chan dari dapur.
“Airi—jangan lama-lama, omeletnya masih hangat!”
“Aaah iyaaa! Ini udah selesai!” balasku sambil bergegas turun ke arah ruang makan.
Di meja makan, aku langsung menyendok omelet begitu duduk. Lembut dan hangat—aku memakannya terlalu cepat.
Nwe… Onwii-chwan…” gumamku dengan mulut penuh.
“Hm? Ada apa?” sahut Onii-chan sambil menuang susu ke gelasnya.
Gulp— Aku menelan omelet itu dulu sebelum bicara lagi.
“Aku ada janji sama dua temanku… Mahiro-chan dan Mahiru-chan. Kita mau main di taman bermain dekat sini,” kataku sambil menggoyang-goyangkan kaki.
“Terus?” tanyanya, tetap tenang seperti biasa.
“Boleh aku pergi, kan? Mereka nanti jemput aku.” Mataku berbinar penuh harap.
“Boleh kok. Apalagi kamu sudah janji juga, kan?” jawab Onii-chan sambil tersenyum tipis.
“Yatta—!”
“Tapi—”
Aku langsung terdiam. Wajahku berubah masam. “Ya… ya. Aku tahu. Onii-chan harus ikut, kan? Karena kondisi tubuhku ini, kan?” potongku, terdengar agak kesal.
“Ya… itu juga,” ucapnya sambil menatapku serius. “Tapi bukan cuma itu.”
“Heh? Lalu kenapa?” tanyaku sambil mengerutkan dahi.
“Tuh.” Onii-chan menunjuk ke arah televisi yang menyala di ruang tengah dengan sumpitnya.
Aku menoleh. Di layar, seorang reporter berdiri di depan garis polisi. Berita itu terdengar cukup serius.
「Baru-baru ini kembali terjadi kasus penculikan anak di wilayah kota bagian utara. Korban diketahui berusia delapan tahun dan terakhir terlihat saat dalam perjalanan pulang sekolah pada hari Jumat sore. Menurut keterangan sementara dari pihak kepolisian, anak tersebut sempat terlihat berbicara dengan seorang pria dewasa di dekat gang sempit sebelum menghilang dari pandangan warga sekitar. Hingga saat ini, identitas pelaku masih dalam penyelidikan. Polisi telah meningkatkan patroli di area permukiman dan sekolah, serta meminta kerja sama masyarakat untuk melaporkan setiap aktivitas mencurigakan. Pihak berwenang kembali mengimbau para orang tua dan wali agar tidak membiarkan anak-anak berjalan sendirian, terutama di jam berangkat dan pulang sekolah. Anak-anak juga diingatkan untuk tidak berbicara atau mengikuti orang asing, meskipun pelaku terlihat ramah atau mengaku mengenal keluarga korban。」
“Hee… penculikan lagi…” gumamku pelan.
Onii-chan mengangguk.
Aku menelan ludah. “Onii-chan… kenapa sih ada orang yang mau menculik anak?”
Onii-chan tiba-tiba terhenti. Bahunya turun sedikit, ekspresinya melembut… tapi sorot matanya tetap tegas. Seakan ia sedang memilih kata-kata yang cukup jujur, tapi tidak membuatku terlalu takut.
“Macam-macam alasannya… dan semuanya buruk,” katanya akhirnya.
“Buruk?” tanyaku lagi. Sejujurnya, aku menyesal bertanya… tapi rasa penasaranku terlalu kuat.
“Ya. Biasanya mereka minta tebusan ke keluarga. Yaitu meminta bayaran agar anaknya bisa dikembalikan.”
“Bagaimana… cara dia menelepon orang tuanya? Kan… dia belum tahu nomornya?” Tanyaku
“Yang ku tahu, dia menanyakan ke anak itu, antara nomor ayah, ibu, paman, bibi, ataupun kakek neneknya” Jawabnya
Aku mengangguk kecil. Itu menakutkan… tapi masih bisa kupahami.
“Tapi ada juga yang… lebih jahat dari itu.”
Aku membeku. Suara sendokku berhenti bergerak. “Lebih jahat…?” bisikku.
Onii-chan menatapku lama.
Akhirnya ia bicara—pelan, hampir seperti bisikan.
“Ada yang… menjual anak-anak ke orang jahat.”
Jari-jari kakiku mulai dingin.
“Di… dijual…?” suaraku goyah.
“Ya. Bahkan ada juga yang… maaf membuatmu mendengarkan ini, bukannya menakut-nakuti kamu, tapi…”
“Tapi apa?”
Dia menghela nafas “mereka membunuhnya dan menjual bagian tubuh mereka.”
Seketika bulu kudukku berdiri. Garpu di tanganku bergetar. Ujung rambut di tengkukku ikut merinding.
“Di… di-di-di-di… dibunuh? Dan di… di-di-di-di-dijual bagian tubuhnya?” bisikku penuh takut.
Dia mengangguk pelan
Aku terdiam. Badanku… menggigil. Napasku seperti mengecil sendiri. Tubuhku merapat tanpa kusadari, seperti berusaha melindungi diri. Aku memeluk lenganku sendiri. Ruangan terasa jauh lebih dingin, bahkan aroma omelet pun seperti memudar. Keringatku bercucuran. Aku… tidak bisa membayangkan… jika itu terjadi kepadaku. Aku takut… benar-benar takut…
Onii-chan cepat-cepat mendekat dan mengusap kepalaku. Sentuhannya lembut, tapi nyaman—seakan memagari seluruh ketakutanku.
“makanya aku khawatir. Bukan karena aku nggak percaya sama kamu. Tapi karena dunia ini… banyak hal yang nggak bisa kamu lawan sendirian.”
Aku menatap meja, menggigit bibir. “…aku ngerti…” jawabku pelan. Badanku sontak memeluk Onii-chan. Dia membalas pelukanku. Badanku terasa hangat
Onii-chan tersenyum tipis. “Airi tetap boleh main. Aku nggak mau bikin kamu kehilangan waktu bermain. Tapi biar Onii-chan ikut, ya? Aku nggak akan ganggu kok. Jalan beberapa langkah di belakang juga nggak apa-apa.”
“K—kalau Onii-chan ikut… aku aman, kan?” tanyaku dengan suara kecil.
“Selalu,” jawabnya tanpa ragu. Seolah kata itu adalah janji yang sudah lama ia tanam dalam hidupnya.
“…tapi… k-kalau boleh… Onii-chan jalan di sampingku. Pegangan tangan, boleh?” pintaku malu-malu.
Ia tersenyum. “Boleh.”
—Ding dong—
Suara bel pintu memecah pagi yang masih tenang.
“Haaaaaik!!!!” Aku refleks berlari kecil ke pintu. Begitu kubuka, dua wajah yang sudah kukenal langsung menyambut.
“OHAYOU, Airi-chaaan!!!” teriak salah satunya dengan suara ceria berlebihan.
“Oh… Mahiro-chan. Ohayou,” jawabku sambil tersenyum, meski telingaku sedikit berdengung karenanya.
“C–cotto, Mahiro… jangan keras-keras… malu…” ujar yang satunya lagi sambil menarik lengan kembarannya.
“Tak apa-apa kok, Mahiru-chan,” kataku cepat, berusaha menenangkan.
Mereka adalah teman-temanku—Mahiro dan Mahiru. Kembar, tapi rasanya seperti siang dan malam. Mahiro selalu penuh energi, bergerak tanpa henti. Mahiru kebalikannya: halus, sopan, dan gampang gugup.
“Oh, Airi-chan pakai baju baru ya?” Mahiro mendekat tanpa ragu. “Lucu banget!”
“M-Mahiro… jangan bilang keras-keras…” Mahiru mencubit pelan lengannya.
Mahiro malah tertawa kecil. “Tapi beneran! Seperti mochi kecil!”
Mukaku langsung panas. “Jangan… jangan bilang mochi…”
Dari belakang, terdengar dengusan kecil. Onii-chan berdiri di dekat pintu, ekspresinya seperti menahan geli.
Mahiru tersenyum kecil, lalu membuka tas mungilnya. “A-aku bawa… kamera kecil. Kalau Airi-chan mau… kita bisa foto-foto nanti.”
“Foto! Foto!” Mahiro langsung meloncat-loncat.
Onii-chan melangkah sedikit maju. “Kalian sudah sarapan?”
“Eh… sudah kok, Rui-san,” jawab Mahiro santai.
Onii-chan menoleh sekilas ke dapur, memastikan semuanya aman. Lalu ia mendekat dan menunduk sedikit agar sejajar denganku.
“Kau bawa obatmu?” tanyanya pelan.
Aku mengangguk. “Iya. Satu kapsul di sakuku. Biar gampang kalau darurat.”
Ia terlihat lega. Tangannya bergerak nyaris tak terlihat, hanya sekilas
memeriksa sakuku. Aku merasa malu—tapi juga hangat. Ada rasa aman yang aneh saat tahu ada seseorang yang mengingat hal-hal kecil tentangku.
Mahiro Menyeringai. “Eh, Rui-san ikut juga? Wah, asyik dong!”
“Aku ikut. Untuk jaga-jaga” jawabnya singkat.
“Ayo, Airi-chan!” Mahiro menggandeng tanganku. “Taman hari ini pasti seru!”
“Sudah siap?” tanya Onii-chan.
Aku mengangguk lagi.
Sebelum melangkah keluar, ia meraih tanganku. Pegangannya hangat, mantap—seperti janji diam-diam. Dadaku terasa lebih ringan.
Kami berangkat bersama. Onii-chan berjalan di sampingku, tangannya menggenggam tanganku dengan mantap.
Di jalan, aku melihat selebaran kecil: AWAS – LAPORAN PENCULIKAN.
“Kita lewat trotoar utama saja. Jangan masuk jalan kecil,” katanya.
“Baik!”
Di jalan—
“Nee, Airi-chan,” panggil Mahiro.
“Hmm? Kenapa?”
“Aku penasaran. Kenapa Onii-chanmu ikut juga?”
Aku menarik napas kecil. “Kamu tahu kan… kondisi tubuhku. Dan berita-berita penculikan itu.”
“Tidak juga,” jawabnya sambil bersiul, seolah topik itu cuma angin lewat.
Aku mendecak pelan. Menjengkelkan… tapi memang begitulah Mahiro.
Lalu aku sadar sesuatu.
Sejak tadi, Mahiru-chan sering melirik ke arah Onii-chan. Bukan sekilas—lebih seperti memastikan. Saat mata mereka bertemu, Mahiru buru-buru berpaling, pipinya memerah.
“Kenapa… Mahiru-chan?” tanyanya gugup.
“Hua… t-ti—tidak ada apa-apa kok…” jawab Mahiru cepat. Ia cepat-cepat memalingkan muka. Aku curiga sesuatu
“Hei, Onii-chan,” panggilku tiba-tiba.
“Ya?”
“Sepertinya Mahiru-chan itu suk—”
Mulutku mendadak ditutup.
“B-bukan apa-apa!” Mahiru memotong dengan panik.
“Hei—cotto! Apa-apaan sih?” protesku, setengah kesal, setengah bingung.
Onii-chan berkedip, jelas kebingungan.
Aku menarik tangan Mahiru pelan, menjauhkannya sedikit dari yang lain.
“Mahiru-chan… kenapa sih?” bisikku.
Mahiru menunduk. Rambutnya bergoyang pelan tertiup angin pagi. “A-aku cuma… aku cuma—”
“Kenapa?” ulangku, lebih lembut.
Ia membuka mulut… lalu menutupnya lagi.
Mahiro yang berjalan di depan menoleh. “Hah? Kenapa pada berhenti?”
“Nggak apa-apa!” Mahiru buru-buru menjawab, terlalu cepat.
Aku menatapnya. Ada sesuatu di matanya—gelisah, tapi juga… ragu.
Onii-chan melangkah mendekat. “Ada masalah?”
Mahiru tersentak kecil. “T-tidak! Sama sekali tidak ada!” Terlalu keras. Terlalu cepat.
Aku bisa melihatnya sekarang—cara Mahiru menghindari tatapan Onii-chan, lalu tanpa sadar melirik lagi. Aku curiga dia sebenarnya suka samanya.
“Onii-chan,” kataku pelan, “sebaiknya kita lanjut jalan aja.”
Ia mengangguk, meski jelas belum sepenuhnya mengerti.
Kami berjalan lagi.
Beberapa langkah kemudian, Mahiru berjalan sedikit lebih lambat—sejajar denganku.
“Airi-chan…” panggilnya lirih.
“Hmm?”
“Onii-chan kamu itu…” Ia berhenti sebentar. “Baik, ya.”
Aku berkedip. “Heeh? Iya sih.”
“Terus… perhatian.” “…dan kelihatannya selalu mikirin kamu duluan.”
Aku tersenyum kecil. “Soalnya aku adiknya.”
Mahiru menggenggam ujung bajunya sendiri. “Iya… aku tahu.”
Nada suaranya aneh. Seperti menerima sesuatu yang sudah ia pahami, tapi tetap terasa berat.
Aku menoleh ke arah Onii-chan yang berjalan beberapa langkah di depan. Punggungnya tegap, langkahnya tenang. Seperti biasa.
Lalu aku kembali menatap Mahiru.
“…Mahiru-chan,” kataku pelan, “kamu kenapa?”
Ia terdiam lama. Kemudian, dengan suara nyaris tak terdengar—
“Aku… cuma sedikit kagum aja.”
Dadaku terasa klik—seperti ada potongan puzzle yang jatuh ke tempatnya.
Begitu rupanya.
Aku tidak mengatakan apa-apa. Tidak bertanya. Tidak menekan.
Aku hanya menggenggam tangannya.
“Mahiru-chan itu orang baik,” kataku. “Jadi… nggak apa-apa kok punya perasaan aneh-aneh.”
Mahiru menatapku, kaget. “A-Airi-chan…?”
Aku tersenyum kecil. “Tapi… Onii-chan itu agak… susah, lho.”
Ia tersenyum tipis—sedih, tapi juga lega.
“…Iya. Aku tahu.”
Di depan, Mahiro berteriak, “Eh! Ayunan taman kelihatan! Cepetan!” Kami berdua tersenyum kecil.
Untuk saat ini, rahasia itu cukup disimpan di antara kami.
—Di Taman Bermain—
Gerbang taman sudah terlihat. Cat hijaunya agak pudar, tapi suara tawa anak-anak membuat tempat itu terasa hidup.
“WAH—! Ayunan kosong!” seru Mahiro sambil langsung berlari kecil.
“Mahiro— jangan lari-…” Mahiru mencoba menegur, tapi suaranya kalah cepat.
Aku berhenti sejenak, menarik napas. Udara di sini lebih segar, bercampur aroma rumput dan tanah lembab.
“Capek?” tanya Onii-chan sambil menoleh ke arahku.
“Nggak kok,” jawabku cepat, lalu tersenyum. “Aku mau ayunan juga.”
Onii-chan mengangguk. “Pelan-pelan.”
Aku dan Mahiru duduk di ayunan yang bersebelahan. Rantainya berderit pelan saat kami mulai mengayun.
“Waaa— lebih tinggi dong!” Mahiro sudah mendorong ayunannya sendiri dengan penuh tenaga.
“K-kalau terlalu tinggi nanti jatuh…” Mahiru berpegangan lebih erat pada rantai.
Aku terkikik kecil.
Ayunanku bergerak perlahan. Setiap maju, angin menyentuh wajahku lembut—rasanya menenangkan.
Onii-chan berdiri agak ke belakang, di dekat bangku taman. Matanya tidak lepas dari kami.
Mahiro tiba-tiba berhenti. “EH! Aku lupa!”
“Lupa apa?” tanyaku.
“ES KRIM!” teriaknya sambil menunjuk gerobak kecil di pinggir taman.
Aku ikut menoleh. Mataku langsung berbinar.
“Onii-chan…”
Ia menghela napas kecil. “Satu saja.”
“Yatta!”
Kami duduk di bangku panjang. Es krim vanila di tanganku mulai sedikit meleleh.
Mahiro sudah belepotan. “Dingin tapi enak!”
Mahiru makan kecil-kecil, rapi sekali. “Airi-chan… sini.”
Ia mengeluarkan kamera kecil dari tasnya. “Aku mau foto…”
“Sekarang?” tanyaku.
“Iya… sebelum es krimnya habis.”
Mahiro langsung berdiri di tengah. “AYO FOTO BARENG!”
Aku berdiri di samping Mahiru. Onii-chan awalnya mundur setengah langkah.
“Eh, Onii-chan juga!” protes Mahiro.
“…Aku?” Ia ragu sebentar.
“Sebentar saja kok,” kataku sambil menarik ujung bajunya pelan.
Ia akhirnya berdiri di sampingku. Tangannya canggung, tidak tahu harus bagaimana.
“Siap…” Mahiru menahan kamera dengan kedua tangan. “T-tiga… dua…”
Klik.
Aku tersenyum tanpa sadar.
Setelahnya, Mahiru melihat hasilnya. Matanya sedikit melebar.
“Bagus…” gumamnya.
“Boleh lihat?” tanyaku.
Di layar kecil itu, aku terlihat tersenyum lebar. Mahiro tertawa aneh. Dan Onii-chan… menatapku, bukan kamera.
Aku merasa pipiku hangat.
“Kenapa Onii-chan nggak lihat kamera?” tanyaku polos.
Ia tersadar. “Ah— kebiasaan.”
Mahiru menunduk, tapi bibirnya melengkung kecil.
Aku menggigit es krimku lagi.
Hari ini— aku ingin menikmatinya dulu.
Aku dan teman-temanku, lanjut bermain lagi
Matahari mulai meninggi. Cahaya panasnya menyentuh kulitku, perlahan tapi pasti membuat tubuhku terasa berat. Kakiku pegal, dan kepalaku sedikit berdenyut.
“Oni… ch—chan…”
“Airi-chan?” Onii-chan langsung menoleh. “Kenapa?”
“Ca… capek…” Aku berjalan pelan lalu duduk di sampingnya, hampir menjatuhkan diri.
Wajah Onii-chan langsung berubah tegang. Ia berjongkok di depanku, menatapku dari dekat.
“Kamu nggak apa-apa, kan?” tanyanya cepat. “Ada bagian tubuhmu yang susah digerakkan? Tangan? Kaki?”
Aku mengangkat tangan, lalu menggerakkan kakiku sedikit. “Tidak ada kok… semuanya masih bisa digerakkan.”
Onii-chan menghela napas panjang. “Syukurlah…”
“Haus…” Aku menjilat bibirku yang kering. “Onii-chan… boleh aku minum?”
“Tentu boleh.” Ia meraih botol di tasnya, lalu berhenti. Botol itu kosong. “Ah… airnya sudah habis.”
Ia berdiri. “Aku belikan minuman, ya. Kamu mau apa?”
Aku berpikir sebentar, lalu mataku berbinar. “Hmm… susu boleh?”
“Boleh. Rasa apa?”
“Vanilla!!!” jawabku tanpa ragu.
Onii-chan tersenyum kecil. “Baik. Tunggu di sini, jangan ke mana-mana. Titip tas nya ya…”
“Iya…”
Ia langsung berlari ke arah minimarket di ujung jalan.
Aku duduk di bangku taman sendirian. Angin panas berhembus pelan. Aku jadi mengantuk sembari memeluk tasnya Onii-chan.
Tapi… entah kenapa… perasaanku terasa sedikit tidak enak.
Dan saat itulah— semuanya terjadi.
[Bersambung]