Chapter 2 - Saat Pegangan Itu Terlepas

 POV AIRI

Entah kenapa... perasaanku terasa sedikit tidak enak.

Aku memegang ujung bangku taman, mencoba bernapas pelan. Panas matahari menyengat kepalaku, dan suara-suara di sekitarku terasa samar.

Lalu—

"AIRI-CHAN, MINGGIR!!!"

Teriakan itu membuatku terlonjak.

"H—eh?" Aku menoleh refleks. Itu suara Mahiru-chan. Wajahnya pucat, matanya membelalak seperti melihat sesuatu yang mengerikan.

Aku belum sempat bertanya apa pun.

Tiba-tiba—

"—!!"

sebuah tangan besar menutup mulutku dari belakang.

Aku tidak bisa berteriak. Napasku tercekat. Bau asing—bau keringat dan sesuatu yang menyengat—menusuk hidungku. Tubuhku terangkat begitu saja, kakiku terlepas dari tanah.

Aku pikir itu Onii-chan. Pegangannya kuat... terlalu kuat. Tapi— ini bukan tangan Onii-chan.

Aku tahu. Pegangan Onii-chan selalu hangat. Selalu hati-hati.

Yang ini... kasar. Menyakitkan.

Mataku membelalak. Dadaku berdegup kencang sampai terasa sakit.

"A—Airi-chan!!" teriak Mahiru-chan.

Ia berlari ke arahku tanpa ragu, berdiri di depan orang itu meski tubuhnya gemetar. Tangannya terbuka, seolah mencoba menghalangi.

"Le—lepaskan dia!!" suaranya bergetar, tapi keras.

"Menyingkir bocah" Ucapnya

Orang itu mendecak kesal. Pegangannya makin kuat. Aku meringis, air mataku mulai mengalir sendiri.

"Mahiro!!" teriak Mahiru-chan tiba-tiba, suaranya pecah. "Panggil Rui-san! Cepat!!"

Aku melihat Mahiro-chan yang tadinya terpaku, matanya melebar. "I—iya!!" Ia langsung berbalik dan berlari sekuat tenaga, meninggalkan taman.

"Berhenti!" Mahiru-chan melangkah lebih dekat, tangannya gemetar tapi tetap terangkat. "Jangan sentuh Airi-chan! Tolong...!"

Aku bisa merasakan tubuh Mahiru-chan gemetar di depanku. Ia kecil. Lebih kecil dariku. Tapi ia tetap berdiri di sana.

Orang itu menggeram pelan. "Aku bilang menyingkir!!!."

"Tidak!" Mahiru-chan menggeleng keras, ia sampai memegang kaki orang itu. "Kalau mau... lewati aku dulu!"

Orang itu menggeram pelan. "Aku bilang... MENYINGKIR!!!."

Dadaku terasa sesak.

Aku takut.

Aku benar-benar takut.

Tapi di tengah ketakutanku...

aku tahu satu hal.

Mahiru-chan sedang melindungiku.

Dan aku hanya bisa berharap—

Onii-chan cepat kembali.


POV RUI

Rak pendingin minimarket berdengung pelan saat aku membuka pintunya.

Satu susu cokelat.

Satu susu vanila.

Aku memastikan labelnya benar dan belum dekat tanggal kadaluarsa sebelum memasukkannya ke keranjang kecil. Vanila—kesukaan Airi. Tanganku refleks mengecek jam. Tidak lama. Seharusnya tidak lama.

"Seperti biasa ya, Rui-kun?"

Aku menoleh ke kasir. Seorang wanita paruh baya tersenyum hangat—ibu dari Mahiro dan Mahiru. Kami sudah saling kenal cukup lama.

"Iya, tante," jawabku singkat. "Biasa, Untuk Airi-chan."

"Hehe... kamu benar-benar Onii-chan yang perhatian," katanya sambil memindai barang.

Aku terkekeh. "Biasa aja kok, tante"

Struk keluar. Aku memasukkan kedua botol ke kantong plastik dan berbalik menuju pintu.

Dan saat itulah— Pintu minimarket terbuka keras.

"Rui-san!!!"

"M...mahiro!!!"

Napasnya tersengal. Rambutnya acak-acakan. Wajahnya pucat seperti habis melihat sesuatu yang mengerikan.

Aku langsung menegang.

"Ada apa?" tanyaku cepat.

Mahiro membungkuk, terengah. "A—Airi-chan...!"

Dadaku langsung mencelos.

Aku berjongkok di depannya, memegang bahunya. "Tenang. Bicara pelan. Ada apa dengan Airi?"

Aku meraih botol susu coklat dari kantong plastik dan menyerahkannya ke Mahiro. "Minum dulu"

"Te... Terima kasih" Mahiro menerimanya dengan tangan gemetar dan meneguk cepat.

"Sekarang beritahu aku, Ada apa dengan Airi?"

"Dia—" Mahiro menelan ludah, matanya bergetar.

"Dia hampir diculik."

Dunia seakan berhenti sebentar.

"HAAAAH?!?!" suaraku turun dingin.

"Orang asing... tiba-tiba nutup mulut Airi-chan," katanya cepat, nyaris menangis.

"Mahiru— Mahiru yang ngelindungin dia! Aku disuruh lari ke sini...!"

Aku berdiri.

"Mahiru di mana?" tanyaku, tajam.

"Masih di taman!" jawab Mahiro. "Dia—dia hadang orang itu... sendirian! Entah masih bertahan atau tidak..."

Tanganku mengepal.

Plastik di tanganku bergetar.

Kasir—ibu Mahiro dan Mahiru—langsung berdiri dari kursinya.

"Mahiro?" suaranya panik. "Kamu bilang apa?!"

Mahiro menoleh. "Ma—Ma... Mahiru masih di sana...!"

Wajah wanita itu langsung pucat.

Aku tidak berpikir lagi. Saat itu— kantong plastik di tanganku terlepas.

Srek. Botol susu vanila jatuh ke lantai.

Aku bahkan tidak menoleh.

"Tante," kataku cepat, "tolong hubungi polisi."

Wanita itu mengangguk cepat tanpa bicara, tangannya sudah meraih ponsel.

"Mahiro-chan, pergi kerumah pamanku yang ada di sebelah kanan rumahku, dan panggil dia!" kataku cepat

Aku berbalik dan berlari keluar.

Langkahku menghantam aspal.

Napas teratur.

Otot tegang.

Aku berlari.

Bukan cepat.

Tapi secepat mungkin.


POV AIRI

Pegangan itu semakin kuat. Aku refleks menggigit tangan yang menutup mulutku—keras.

"—!!"

Rasa sakit menjalar ke rahangku, tapi cengkeramannya tidak melemah. Dunia terasa menyempit. Suara tawa anak-anak menghilang, digantikan detak jantungku sendiri yang memekakkan telinga.

Lalu—

"Woi. Lepaskan dia."

Suara itu membuat dadaku seakan meledak oleh kelegaan.

"Onii—!" suaraku tercekat, masih tertahan oleh telapak kasar itu.

Orang itu menoleh. "Hei, bocah. Bukan urusanmu."

Ia melangkah setengah langkah mendekat.

"Jangan panggil aku bocah."

Aku hanya sempat melihat bayangan—

BRAK!

Tendangan Onii-chan menghantam kepala orang itu. Pegangan terlepas. Tubuhku jatuh ke tanah, lututku membentur keras, tapi aku tidak peduli.

Aku bebas. Aku merangkak sedikit menjauh

"Lalu, bukan urusanku?" suara Onii-chan turun, dingin dan tajam. "Dia adikku."

Orang itu terhuyung, menggeram—lalu tertawa kecil.

"Heh... boleh juga."

"Onii-chan!" aku terengah, merangkak menjauh. Onii-chan seperti memasang kuda-kuda

Orang itu bangkit. Tatapannya liar. Tangannya menyambar ke balik jaket—

Dua kilatan logam muncul.

Pisau.

Napas tersangkut di tenggorokanku.

Orang itu menyerang, Onii-chan tidak mundur.

Gerakannya cepat dan terukur—menghindar, menepis pergelangan, memutar tubuh. Pisau melintas beberapa senti dari lengannya. Wajahnya fokus, tenang dengan cara yang menakutkan.

Onii-chan terus menekan. Langkah demi langkah, orang itu terpojok ke dinding taman. Aku bahkan tidak sempat mengikuti semuanya—seperti menonton bayangan bergerak terlalu cepat.

"Kau tidak bisa bergerak kemana-mana..." Ucapnya seperti mencaci-maki orang itu

Aku mencoba bangkit. Menjauh.

Tapi... "Aw... Sakit..."

"Ah—!"

Rasa berat itu datang tiba-tiba, seperti beban besi menahan sendi. Aku mencoba menggerakkan kakiku lagi.

Rasa sakit menyambar, tajam seperti ditusuk dari dalam. Napasku terputus. Tenagaku terkuras terlalu cepat... terlalu banyak. Dasar penyakit!

"Onii—chan...!" suaraku pecah. Air mataku lepas.

Aku jatuh terduduk. Kakiku tak mau menuruti perintahku. Tanganku gemetar, memeluk paha yang nyerinya terasa sampai ke tulang.

"Airi-chan?!" Onii-chan menoleh.

Dan pada detik itu— Ia lengah.

Orang itu menyeringai. Orang itu memberikan serangan balasan. Dan... BUKK— Tendangannya menghantam keras, tubuh Onii-chan terhempas dan membentur dinding taman. Ia refleks menyelamatkan kepalanya

"O—Onii—chan!!"

Pisau terangkat lagi.

Aku mencoba berdiri. Tidak bisa. Pandanganku bergetar.

"JANGAN!" aku berteriak.

Kilatan logam turun.

Duk. Duk.

Kedua Pisau itu menancap di kaki kanan Onii-chan.

Darah merah langsung mengalir, mengotori tanah. Onii-chan mengerang tertahan, rahangnya mengeras, tangannya mencengkeram lantai.

Waktu seolah berhenti.

"Onii... chan..." Suaraku tinggal bisikan.

"Makanya jangan lengah," cibir orang itu.

Ia melangkah ke arahku. Ia mendekatiku "Tidak ada yang bisa menghalangiku, bocah"

"Jangan... sentuh... adikku..." Onii-chan memegang kakinya, darahnya yang keluar seperti membentuk garis.

"Berisik!"

Tendangan keras menghantam tubuhnya sekali lagi.

Darah terpercik. Tubuh Onii-chan terkulai. Ia tidak bergerak lagi.

Dadaku sesak. Napasku berantakan. Kakiku masih tak bisa digerakkan. Aku ingin bangun. Aku ingin menolong. Aku ingin menukar sakit ini dengan miliknya.

Tapi aku tidak bisa.

Dan untuk pertama kalinya sejak aku ingat— Aku benar-benar tak berdaya.

Di kepalaku hanya ada satu pikiran yang berputar, menyayat lebih sakit dari apa pun: Ini salahku.

Tiba-tiba...

DOR!

Tubuh orang itu terhentak. Kakinya roboh lebih dulu.

Aku menoleh.

Polisi.

"Cepat! Amankan tersangka!"

Dua polisi lain langsung membekuknya.

Sirene terdengar tidak lama kemudian.

Nyaring. Menusuk. Terlalu keras untuk kepalaku yang sudah penuh.

Lampu merah dan biru memantul di aspal taman, di wajah-wajah orang dewasa yang berlarian. Polisi berbicara cepat. Seseorang menutup pandanganku, tapi aku tetap bisa melihat—

"Ambulans datang!" teriak seseorang.

Aku ingin berdiri. Aku ingin mendekat. Tapi kakiku masih tak mau menuruti perintah, tapi rasa sakitnya belum pergi—malah terasa lebih dalam, seperti menggenggam tulang dari dalam.

"Airi-chan..." Suara Mahiru terdengar bergetar di dekatku.

Mahiru tidak bicara. Ia berlutut di sampingku, wajahnya pucat, matanya kosong. Tangannya gemetar hebat, tapi tetap mencoba memeluk bahuku—seperti menahan aku agar tidak runtuh.

Pintu ambulans terbuka dengan suara keras.

Paramedis berlari. Kata-kata asing beterbangan di udara.

"Tekanan darah turun—"

"Luka tusuk di kaki—"

"Siapkan tandu!"

Aku melihat mereka mengangkat Onii-chan.

Tubuhnya tampak berat. Terlalu berat.

"Onii... chan..."

Aku memanggilnya, tapi suaraku tenggelam oleh sirene.

Seorang paramedis berjongkok di depanku.

"Dek, kamu dengar aku?" tanyanya lembut. "Kamu bisa minum?"

Ia menyodorkan botol air.

Tanganku gemetar saat menerimanya.

Aku meneguk sedikit. Tenggorokanku terasa kering, tapi rasa sakit di kakiku tidak berkurang.

Tas kecil itu masih kupeluk sejak tadi.

Seolah itu satu-satunya hal yang menahanku agar tidak jatuh lebih jauh.

Aku membukanya dengan tangan gemetar.

Botol kecil itu masih ada.

Obatku.

Aku tidak berpikir panjang.

Aku membuka tutupnya, mengambil satu kapsul—lalu menelannya dengan air yang tersisa.

Aku memejamkan mata.

Cepat... tolong cepat...

Aku butuh bergerak.

Aku harus bergerak.

Sirene ambulans kembali meraung saat pintunya tertutup. Kendaraan itu mulai melaju—membawa Onii-chan menjauh dariku.

"Aku ikut...!" Aku mencoba bangkit.

Kakiku masih berat.

"Airi-chan, tenang dulu," kata Mahiru lembut, menahan pundakku. "Pulihkan tenagamu dulu."

Aku menggigit bibir.

Mataku tidak lepas dari ambulans yang menjauh.

Jauh. Jauh sekali.

Aku sadar— Hari ini, aku hampir kehilangan satu-satunya orang yang selalu menjagaku. Karena aku.

[Bersambung]