POV AIRI
Hari ini, aku hampir kehilangan satu-satunya orang yang selalu menjagaku.
Karena aku.
Air mataku jatuh, menangisi diriku yang lebih lemah dari yang lain.
“Airi-chan, kamu tidak apa-apa?” tanya Mahiru.
Aku menghapus air mataku dengan punggung tangan. Gerakannya kasar, terburu-buru—seolah jika aku berhenti, semuanya akan runtuh.
“Tidak apa-apa,” jawabku.
Setelah itu, ada mobil. Mobil berhenti tidak jauh dari kami. Mahiro Pamanku turun dengan wajah tegang, lalu bergegas menghampiriku.
“Airi, kamu tidak apa-apa?” tanyanya.
“Ya… aku tidak apa-apa, Paman,” jawabku pelan.
“Tapi… Onii-chan…”
“Ibu Mahiro dan Mahiru sudah menceritakan semuanya,” katanya. Suaranya berusaha terdengar tenang, tapi aku bisa mendengar getarnya. “Sekarang kita harus ke rumah sakit. Sekarang.”
Tanpa menunggu jawabanku, paman menggendongku. Tubuhku terangkat begitu mudah—terlalu mudah. Seolah aku memang sering menjadi beban.
Mahiru Dan Mahiro ikut naik ke mobil. Aku sempat melihat bibiku sudah duduk di dalam, matanya sembab, tangannya saling menggenggam erat.
Sirene ambulans di depan kami terdengar seperti suara yang memanggil-manggil, semakin jauh, tapi juga semakin dekat di kepalaku.
“Onii-chan…” gumamku pelan, nyaris tak bersuara.
“Airi-chan,” Mahiru memanggil lembut dari sampingku. Tangannya menyentuh lenganku dengan hati-hati, seolah aku bisa pecah kapan saja.
“Rui-san… dia kuat. Dia pasti baik-baik saja.”
Mahiru terdiam. Ia menunduk, mengepalkan tangannya di pangkuan. Aku tidak tahu apakah ia marah, takut, atau menyalahkan dirinya sendiri—atau mungkin sama sepertiku.
Mobil berhenti mendadak.
“Kita sudah sampai,” kata paman dengan suara tegas.
Pintu dibuka. Kemudian aku digendong punggung sama paman. Udara rumah sakit terasa dingin, menusuk paru-paruku. Lampu-lampu putih menyilaukan mataku saat aku dibawa masuk, melewati lorong yang panjang dan terlalu sunyi untuk tempat dengan begitu banyak orang.
“Onii-chan di mana…?” tanyaku, panik.
“Masih ditangani dokter,” jawab bibi cepat, berusaha tersenyum walau matanya merah.
“Kamu tenang dulu ya, Airi.”
Tenang… Bagaimana caranya aku bisa tenang, saat orang yang selalu bilang ‘aku di sini’ sekarang tidak bisa kudengar suaranya?
Aku didudukan di kursi panjang yang ada di sebelah Pintu itu. Aku menatap pintu ruang gawat darurat yang tertutup rapat.
Kumohon… Jangan ambil dia dariku juga.
Waktu berjalan lambat. Terlalu lambat.
Jam di dinding berdetak seperti ejekan. Setiap detik terasa berat, menekan dadaku. Aku tidak tahu sudah berapa lama kami menunggu ketika seorang dokter akhirnya keluar dari ruang itu.
Paman langsung berdiri. Bibiku ikut menyusul. Mahiru dan Mahiro memegang tanganku—kali ini lebih erat.
“Bagaimana keadaan Rui dok?” tanya paman.
Dokter itu menarik napas pelan sebelum bicara.
“Luka tusuknya cukup parah,” katanya. “Kami sudah menghentikan pendarahannya. Tapi… ada komplikasi lain.”
Dadaku terasa turun.
“Komplikasi…?” ulang bibi dengan suara bergetar.
Dokter itu menatap kami satu per satu, lalu berkata pelan, “Pisau yang melukainya itu… mengandung racun.”
“Racun…?” suaraku keluar tanpa izin.
Dunia seakan berhenti.
“Zatnya cepat menyebar,” jelasnya. “Kami sudah melakukan segala yang kami bisa, tapi… jaringan di kakinya mengalami kerusakan parah.”
Aku tidak mengerti semua istilah itu.
Yang aku dengar hanya satu hal.
“Kakinya…”
Dokter mengangguk perlahan.
“Untuk menyelamatkan nyawanya,” lanjut dokter itu,
“kami harus melakukan pemotongan bagian kakinya yang terinfeksi agar tidak menyebar”
Kata itu jatuh seperti palu.
Aku menatap lantai. Pandanganku buram. Napasku tercekat, seperti ada tangan tak terlihat yang mencekik tenggorokanku. Memotong kakinya…
“Tidak…”
“Tidak! TIDAK!!!”
“Onii-chan…” gumamku, suaraku pecah.
Tanganku gemetar hebat. Botol obat itu terlepas dari genggamanku dan jatuh ke lantai dengan bunyi kecil yang nyaris tak terdengar. Aku berdiri, ingin masuk ke ruangan itu, tapi tenagaku belum pulih, badanku terjatuh.
“Ini… Ini salahku…”
Mahiru memelukku. Erat. Sangat erat.
“Airi-chan… ini bukan salahmu,” katanya, tapi suaranya juga menangis.
“Benar, Ini bukan salahmu, tapi si penculik itu,” Sambung Mahiro.
Aku mencengkeram bajuku, tubuhku bergetar.
Aku ingin menjerit.
Aku ingin menghilang.
Aku ingin menukar tempat dengannya.
Di balik pintu ruang operasi itu, Onii-chan sedang bertarung sendirian.
Dan aku…
bahkan tidak bisa berdiri di sampingnya.
“Maaf…” bisikku.
“Maafkan aku…”
Jika aku sedikit lebih kuat.
Jika penyakit ini tidak ada.
Aku tidak akan duduk di sini—
menunggu orang lain bertarung sendirian demi diriku.
Tanganku mengepal, tapi tidak ada yang bisa kulakukan.
Aku merasa… paling tidak berguna didunia ini…